dear boys lalala

Dear Boys Chapter 3

Author: A_Kwon | Main Cast(s): Lee Seunghyun (Seungri), Hyun Hagyeong (OC), Kwon Jiyong (GD), & Ha Yooran (OC) | Genre: Romance, Drama & a bit comedy*maybe* | Length: Chaptered | Rating : PG-15

Haegyeong membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamarnya. Kemudian menghela nafas dan bangkit duduk dari tidurnya. Ekor matanya menelaah seisi kamarnya sembari mengumpulkan kesadaran untuk bangkit berdiri. Dan kemudian teringatlah dia tentang peristiwa tadi malam dimana ia pingsan saat ditinggalkan oleh Seungri. Ia kemudian bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa akhir-akhir ini ia kerap kali pingsan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya.

Tanpa pikir panjang ia pun memutuskan untuk memanggil dokter pribadinya untuk memeriksakan kesehatannya. Ia kemudian meraih telepon yang tergeletak di atas laci di samping tempat tidurnya. Dan secara cekatan memijit tombol-tombol angka di teleponnya.

10 menit kemudian, sang dokter pun tiba. Ia lalu menceritakan gejala-gejala yang telah ia alami. Sang dokter kemudian berpikir sejenak.

“Menurut kesimpulan saya, sepertinya anda telah mengidap kanker otak” ucap sang dokter.

Haegyeong yang begitu mendengarnya langsung tercekat tak percaya “K-Kanker otak??!” Pikirannya langsung kosong begitu mendengar pernyataan tersebut. Ia merasa tak percaya dan terlalu takut untuk mempercayainya.

“Benar, tampaknya saat ini kanker anda masih berada pada stadium awal. Jika sudah mencapai stadium akhir kemungkinannya untuk sembuh sangatlah kecil. Oleh karena itu saya sarankan agar anda segera melakukan CT Scan kemudian melaksanakan operasi”

Haegyeong hanya terdiam tak bergeming. Ia tak tahu harus berkata apa setelah mendengarnya.

“Ini, beberapa obat untuk meringankannya. Tetapi untuk sembuh tidak cukup hanya mengandalkan obat” ucap sang dokter seraya memberikan beberapa botol obat.

Haegyeong mengangguk pelan dan tersenyum simpul, pikirannya masih terasa kosong setelah mendengar pernyataan tadi.

“Tenanglah nona, anda pasti dapat sembuh. Tetaplah berpikir positif, jangan membebani pikiran anda. Stress hanyalah memperburuknya” ucap sang dokter yang tampak mengerti apa yang ia rasakan.

“Baiklah, terimakasih dok”

==DEAR BOYS==

Anak-anak bermain riang sementara Haegyeong duduk di pinggir kursi taman untuk menghibur diri dari kekecewaan dan ketakutannya; dia bisa melihat dan mendengar mereka berlarian dan memekik layaknya anak-anak yang bahagia. Ia hanya bisa tersenyum melihatnya namun raut mukanya masih dapat menunjukkan bahwa dirinya sedang bersedih. Melihat mereka yang berlari-lari dan memekik gembira, mengingatkannya ketika ia masih kecil dan berlari-lari gembira seperti mereka. Disisi lain ia dapat melihat sebuah keluarga yang sedang berpiknik di bawah pohon, sang anak tampak gembira bercengkerama dengan orangtuanya begitupun sebaliknya. Hal itu mengingatkannya pada orangtuanya dan ia bertanya-tanya kapan terakhir kali hal seperti itu terjadi padanya, pada keluarganya. Dan terakhir, ia melihat sepasang insan sedang berjalan sambil berpegangan tangan dengan mesra. Tampak kebahagiaan terpancar dari keduanya, membuatnya merasa iri dan bertanya-tanya kapan ia bisa seperti mereka. Selama ini hubungannya dengan Seungri masih belum ada kepastian meskipun mereka telah bertunangan; apakah dia memiliki perasaan yang sama seperti yang ia rasakan padanya. Selama ini Seungri hanya peduli padanya karena ia adalah tunangannya; diberi tanggung jawab oleh orangtuanya untuk menjaganya. Ia tak tahu apakah Seungri akan berlaku sama juga jika seandainya dia bukan tunangannya. Dan juga sering menggodanya seakan mempermainkan perasaannya, sejujurnya ia tak suka itu. Dari semua itu ia bertanya-tanya apakah ia dapat terus bersama mereka sedangkan bayang-bayang kematian menghantuinya.

“Haegyeong-ah………!!!” teriak Gyurim melambai-lambaikan tangannya dengan riang di kejauhan. Gelang yang ia kenakan dapat terlihat bergoyang seirama dengan gerakan tangannya dari jauh.

Haegyeong menghentikan lamunannya dan menoleh kepada si pemilik suara dan tersenyum simpul. Sebenarnya tanpa menoleh pun ia dapat mengenali suara nyaring yang dimiliki oleh sahabatnya itu.

“Ada apa kau meneleponku dan menyuruhku datang kemari?” tanya Gyurim yang kini telah berada di hadapannya.

“Aku sedang butuh teman” jawabnya singkat dengan senyum yang sama singkatnya.

Gyurim pun duduk disampingnya dan membungkuk memperhatikan wajahnya. Merasa diperhatikan, Haegyeong pun meliriknya dengan tatapan dingin dan dengan singkat berkata; “Apa?”

“Kau tampak bermasalah. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Gyurim. Mungkin jika aku menceritakannya kau tak akan percaya. Begitupun denganku Gyurim, aku terlalu takut untuk mempercayainya” ucapnya tampak putus asa. Ia menghela nafas pada akhir kalimat.

“Tak apa, ceritakanlah” ujar Gyurim tersenyum perhatian. Salah satu tangannya bersandar dipundak miliknya seakan memberinya kekuatan.

“Tadi pagi, aku memeriksakan kesehatanku pada dokter pribadiku. Dan hasilnya….A-aku sekarang ini sedang mengidap kanker otak stadium awal” ucapnya sedikit terbata. Matanya tampak mulai berkaca-kaca.dan ia menggigit bibirnya berusaha menahan air mata yang akan keluar. Gyurim membulatkan matanya begitu mendengarnya dan kemudian langsung memeluknya erat.

“Hagyeong..” gumam Gyurim pelan.

Gyurim kemudian melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Dan tanpa Haegyeong duga Gyurim kemudian malah mencubit kedua pipinya sambil berkata : “Pabo-ya! Kenapa kau putus asa begitu. Bersemangatlah! Itu hanya stadium awal kau pasti bisa sembuh. Tenanglah aku akan selalu ada disisimu menyemangatimu. Kau pasti sembuh. Percayalah!!” seru Gyurim yang mulai terisak.

Haegyeong melepaskan kedua tangan Gyurim di pipinya dan kemudian langsung memeluk sahabatnya itu “Terimakasih Gyurim, kau memang sahabatku yang terbaik” ucapnya pelan dan memeluk sahabatnya itu erat.

Ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Gyurim. Perempuan itu selalu ada dan menyemangatinya disaat-saat seperti ini. Ia tak tahu apa jadinya jika dia kehilangan sahabatnya tersebut.

“Tolong untuk saat ini jangan beritahu ini pada siapapun, hanya kaulah yang mengetahui ini. Bahkan keluargaku dan juga Seungri belum mengetahuinya” ujar Haegyeong setelah melepaskan pelukannya.

“Kau tak memberitahu mereka?”

“Tidak. Aku belum memberitahu mereka”

‘”Kenapa kau tidak segera memberitahu mereka?”

“Entahlah, sampai saat ini, aku masih belum bisa berpikir jernih. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan”

==DEAR BOYS==

Asap mengepul keluar dari mulut pria itu. Dengan santai ia ia menghisap batang rokoknya sambil duduk dengan menyilangkan salah satu kakinya diatas paha kakinya yang lain. Tangan kanannya sedang sibuk membuka lembaran demi lembaran halaman buku yang ada didepannya. Suasana ramai di taman kampus saat itu sama sekali tak mengganggunya untuk membaca buku sekaligus merokok di tempat umum. Dan ia sama sekali tak peduli dengan tatapan-tatapan penghuni kampus yang lewat; tatapan terpukau para mahasiswi. Menjadi seorang dosen muda yang digilai para wanita memang tak mudah.

“Choi Seunghyun..” panggil seorang wanita di hadapannya. Ia kemudian menekan puntung rokok ke bangku taman untuk memadamkannya lalu mendongak dan tersenyum “Ha Yooran, ratuku”

“Kenapa kau datang ke kampusku?” tanya Seunghyun sambil membelai rambut bergelombang Yooran yang kini kepala wanita tersebut sudah bersandar dipundaknya.

“Untuk apalagi selain karenamu chagi-ya”

“Maafkan aku chagi, aku masih ada kegiatan di kampus setelah ini”

“Kalau begitu nanti malam aku akan menunggumu ya.. Bye..Bye.. Chagi..” ujar Yooran. Sebelum beranjak pergi, ia mencium Seunghyun singkat.

Tepat beberapa menit setelah kepergian Yooran, Seungri datang pada Seunghyun dengan membawa beberapa buku tebal ditangan kanannya. Ia sama sekali tak tahu kalau Yooran baru saja datang menemui Seunghyun dan bermesraan. Mungkin jika ia mengetahuinya, hatinya bisa saja langsung hancur berkeping-keping begitu mengetahui kalau wanita yang ia cintai mencintai pria lain yang ternyata adalah seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri.

“Seunghyun-hyung..!” serunya seraya meletakkan buku-bukunya disamping Seunghyun dan kemudian duduk disampingnya.

“Oh baiklah.. Jadi nilaimu C lagi?” tanya Seunghyun datar. Ia mengambil sebatang rokok dari sakunya kemudian menyulutnya dan menyesapnya santai.

“Ya begitulah..” jawab Seungri murung. Ia menunduk dan tersenyum, namun senyumnya itu bukan senyum senang melainkan sebuah senyum sarkastik pada dirinya sendiri.

Seunghyun memperhatikannya datar kemudian tersenyum simpul dan menepuk-nepuk pundaknya. “Tak apa-apa, mungkin lain kali kau bisa mendapat nilai bagus. Bersemangatlah..” Dan secara mengejutkan kemudian ia menepuk pundak Seungri keras. “Semangat bro!” Membuat Seungri sedikit tersungkur kedepan.

“Hehe iya hyung.. Sipp!” ucap Seungri cengengesan mengacungkan jempolnya.

“Baiklah ayo kita mulai” ujar Seunghyun mengambil salah satu buku Seungri dan melihat-lihatnya.

==DEAR BOYS==

Keramaian masih menghiasi kota Seoul sore itu. Kendaraan-kendaraan berasap yang lalu lalang di jalanan kota Seoul menghasilkan kebisingan dan polusi ditengah-tengah luasnya ibukota tersebut. Dan disanalah Haegyeong berpijak, ditengah keramaian kota menyusuri trotoar menuju kafe favoritnya hanya untuk sekedar menikmati seporsi waffle dan es krim kesukaannya agar moodnya membaik.

Bel berbunyi seiring dengan pintu yang ia dorong. Pelayan kafe menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkannya masuk. Suasana kafe yang hangat dan nyaman, membuatnya betah untuk berlama-lama disana. Ia sudah sering mendatangi kafe tersebut sejak lama. Biasanya ia mengunjungi kafe tersebut disaat pikiran dan hatinya sedang buruk, persis seperti saat ini. Ia memilih untuk duduk di sebuah meja kosong yang menghadap ke jendela. Dari situ ia dapat melihat suasana diluar kafe sambil menunggu pesanannya datang.

“Bolehkah aku bergabung denganmu?” ujar seorang wanita berparas cantik yang berdiri membawa segelas cappuchino didepan mejanya. Membuat Hagyeong sedikit terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.

“Iya silahkan. Kebetulan saya sedang sendiri” jawab Haegyeong mempersilahkan.

“Kau Hyun Haegyeong kan? Tunangan Seungri?” tanya wanita itu duduk di hadapannya.

Hagyeong terkesiap begitu mendengar wanita tersebut memanggil namanya dan mengetahui statusnya sebagai tunangan Seungri

Darimana ia bisa tahu?.

“I-iya.. Bagaimana anda bisa tahu?” jawab Haegyeong sedikit terbata.

Wanita itu kemudian tersenyum lembut “Kenalkan aku Ha Yooran, temannya Seungri. Maafkan aku karena kemarin sepertinya aku membuat kalian bertengkar”

Hagyeong berpikir sejenak, mengingat kejadian malam kemarin. Dan ya, iya baru menyadari kalau wanita yang sekarang duduk dihadapannya adalah wanita yang sama yang bersama Seungri kemarin malam.

Sialan! Apa yang ingin dia lakukan?!

“Kau sudah salah paham. Tenang saja, kami hanya berteman. Kami telah berteman lama sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sangat dekat, hingga aku menganggapnya sebagai adikku sendiri” ucap Yooran santai yang tampaknya dapat membaca apa yang Hagyeong pikirkan.

Kalimat Yooran tersebut seperti sebuah tamparan bagi Hagyeong. Ia menyesal karena telah berpikir buruk padanya. “Ahh begitu. Maaf aku sudah berpikir yang tidak-tidak pada kalian, terlebih pada anda” ujar Hagyeong merasa bersalah.

“Tak apa, cemburu itu wajar..” ujar Yooran sebelum menyeruput cappuchinonya. “Kami pertama kali bertemu ketika musim semi beberapa tahun yang lalu, saat itu aku berumur 8 tahun dan dia 6 tahun. Waktu itu aku dihadang 3 orang anak laki-laki yang akan merampas bekal dan uang jajanku. Seungri disana membelaku. Aku sungguh tak menduganya, ia sangat berani untuk melawan mereka yang lebih tua dan lebih kuat darinya padahal ia masih berumur 6 tahun. Pada akhirnya ia kalah dan terluka, aku sungguh berterimakasih dan juga sungguh menyesal karena telah membuatnya terluka hanya karena membelaku. Sejak saat itu aku selalu bersamanya dan menjaganya seperti adikku sendiri, karena aku berhutang padanya. Bagiku dia adalah adik yang manis dan juga konyol” lanjut Yooran panjang kemudian, ia setengah tertawa ketika menyelesaikan kalimat terakhir.

“Manis.. dan konyol..??” tanya Hagyeong tak percaya.

“Iya…” jawab Yooran mengiyakan “Oh apakah kau belum pernah melihatnya seperti itu?” lanjutnya kemudian yang dibalas dengan gelengan pelan dan wajah masam Hagyeong.

“Selama ini mungkin kau hanya melihat sisi kerennya saja. Tapi percayalah jika kau mengenalnya lebih jauh lagi dia itu ceroboh, sangat konyol dan lucu. Dia bahkan memiliki bermacam-macam aegyo” ucap Yooran sebelum menyeruput cappuchinonya lagi. “Aku sendiri bahkan tak pandai ber-aegyo” Mereka berdua pun serempak tertawa ringan.

Didalam hatinya Hagyeong merasa sedikit iri pada Yooran. Bagaimana mereka begitu akrab dan bagaimana Yooran dilindungi serta mengetahui sisi lain dari Seungri yang ia tak ketahui.

Aku ingin sepertinya..

“Permisi, ini pesanan anda nona..” Seketika suara pelayan kafe yang mengantarkan pesanannya membuat lamunannya buyar.

“Terimakasih..” ucap Hagyeong membetulkan letak makanannya.

Setelah itu Hagyeong menemukan dirinya penasaran tentang Seungri dari Yooran. “Hmm.. Yooran-sshi bisakah anda menceritakan tentang Seungri lagi?” ujar Hagyeong antusias.

“Tentu saja, dengan senang hati..” jawab Yooran tersenyum lembut. “Ia menyukai Justin Timberlake, menyukai anak-anak, menyukai sepakbola, tidak terlalu menyukai binatang, menyukai makanan, makanan favoritnya telur gulung, dan ia mempunyai kebiasaan mengedipkan matanya beberapa kali jika merasa gugup atau malu”

“Oh ya, dia sangat menyayangi neneknya. Tiga tahun setelah pertemuan pertama kami, saat itu sedang musim dingin tanggal 4 Januari, neneknya meninggal dunia. Aku disana ikut menghadiri pemakamannya. Dia terlihat sangat sedih dan merasa kehilangan. Ia terus menangis disamping nisan neneknya. Aku merasa iba melihatnya seperti itu, aku hanya bisa menenangkannya saja. Tetapi dia tetap tak berhenti menangis” lanjutnya kemudian.

“Apa yang terjadi pada neneknya?” tanya Hagyeong penasaran.

“Beliau mengidap kanker otak. Kanker otaknya sudah sangat parah, hingga sudah tak bisa diobati lagi..” ujar Yooran kemudian dan menyeruput cappuchinonya lagi.

DEG..

Begitu mendengar kata ‘kanker otak’ rasanya jantung Hagyeong berhenti untuk sejenak. Dan ia kembali mengingat kejadian di tempo hari saat dokter pribadinya mengucapkan kata yang sama.

“Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Yooran kebingungan begitu melihat Hagyeong melamun.

“Hmmh..? Aku tak apa-apa Yooran-sshi” jawab Hagyeong mengelak. “Terimakasih banyak atas informasi-informasinya” ucapnya berusaha tersenyum.

“Sama-sama. Ahh maaf, sepertinya aku harus pergi dulu” ucap Yooran sambil melihat jam tangannya.

“Oh silahkan, tak apa-apa Yooran-sshi’

“Kalau begitu, sampai berjumpa lagi ya! Mungkin kapan-kapan kita bisa makan bersama lagi” ujar Yooran bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum ramah.

“Ya, sampai jumpa..” jawab Hagyeong mengangguk dan tersenyum lembut.

==DEAR BOYS==

Hagyeong membantingkan tubuhnya ke kasur. Menatap langit-langit kamarnya sebelum memindahkan pandangannya ke jam dinding. Sudah jam 8 malam. Ia kemudian meraih buku fisikanya dan mulai belajar.

Kring..Kring..

Baru saja ia membuka halaman bukunya. Sebuah suara aneh muncul di luar rumahnya. Penasaran, ia pun mendekati jendela kamarnya dan membuka gordennya. Ekor matanya menangkap Jiyong sedang berdiri diluar sana melambai-lambaikan kedua tangan. Dari bawah sana, meskipun tidak cukup jelas ia dapat melihat bibir laki-laki itu tersenyum lebar.

Jiyong kemudian mengangkat sebuah papan besar bertuliskan ‘Jangan bersedih!’. Dan menggantinya dengan papan lain yang bertuliskan ‘Kau pasti bisa sembuh!’. Kemudian menggantinya dengan papan lain lagi yang bertuliskan ‘Kami akan terus mendukungmu! <3’

Hagyeong merasa amat tersentuh begitu melihatnya. Ia hanya bisa tersipu malu. Pikirnya, Gyurim pasti telah memberitahu Jiyong dan mereka telah merencanakan hal itu untuk menghiburnya.

DRRT..DRRT…

Handphone milik Hagyeong bergetar. Sebuah pesan masuk dari Jiyong tertera di layarnya.

From : Jiyong

Besok pulang sekolah bisakah kita jalan-jalan sebentar?

Hagyeong kembali mengalihkan pandangannya ke Jiyong. Tersenyum manis dan mengangguk pada laki-laki itu. Laki-laki itu kemudian mengacungkan kedua jempolnya dengan tersenyum lebar.

TBC

Author’s Note : Pertama-tama, saya minta maaf atas update yang superr duperr lambat ini. Terakhir saya update ni ff kira2 setaun yang lalu. Dari saya kelas 9 smp sampe sekarang libur kelas 10 sma mau ke kelas 11 -_- Karena long hiatus saya dari dunia fangirlingan karena pengin fokus ke sekolah. Tapi pada akhirnya meskipun saya fokus ke sekolah, itu saya di sekolah ga ningkat-ningkat amat#plak

Ditambah lagi laptop saya yang baru diganti. File-file saya yang ada di laptop lama keburu dihapus dan belum dipindahin ke laptop yang baru. Jadinya saya sekarang harus buat lagi ffnya di laptop yang baru. Juga di tengah-tengah penulisan saya sempet kena writer’s block tapi untung bisa ditangani dan akhirnya sekarang saya bisa ngelanjutin ff ini.

Dan saya terharu melihat readers2 saya yang setia banget nungguin ni ff. Ketahuilah ceman-ceman, saya ga pernah janji buat nge-discontinue ni ff. Jadi kalian ga perlu khwatir, saya bakalan terus ngelanjutin ni ff sampe tamat kok.

Jika ada pertanyaan, saran, atau kesan jangan ragu untuk memberikan komentar ya!

Terimakasih sudah membaca cerita ini dan sampai jumpa di chapter yang akan datang~! Muah..Muah..