Author: Lin
Title: Friday
Genre: Romance

Rating: T

Main cast:
1.  Taeyang
2. IU as Lee Ji Eun

Hai.. ini ff pertama author. Bukan pertama juga sih, udah sempet bikin beberapa tapi berhenti di tengah jalan semua /curcol/. Okelah langsung dibaca aja, leave comment ya, don’t be a sider^^

“Tiada hari yang lebih baik lagi, selain hari itu. Hari dimana kita bertemu.”

—–
Ku langkahkan kaki ku menyusuri jalan Seoul yang belum begitu ramai. Hanya ada gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ternyata beginilah kehidupan di kota besar.
“Seoul sangat berbeda dengan Busan.” Ucap ku dalam hati.
Ya, aku merupakan pendatang dari Busan, baru menetap di sini selama satu bulan, dan pindah ke Seoul karena urusan pekerjaan. Bukan pekerjaan kantoran yang mengharuskan para pegawainya mengenakan setelan jas dan dasi, hanya bisnis cafe kecil-kecilan, dan aku datang ke Seoul untuk mengembangkannya. Sudah ku gaji beberapa pegawai untuk menjaga cafe ku, tidak heran aku mempunyai banyak waktu luang.
Langkah ku terhenti di depan sebuah cafe. Menikmati segelas Latte pada pagi hari ini sepertinya tidak buruk. Ku langkahkan kaki ku memasuki cafe tersebut.
Aku mengambil tempat duduk di dekat jendela.
“Mau pesan apa, Tuan?” Tanya seorang yeoja yang sepertinya pelayan cafe ini.
“Latte Machiatto.” Ucap ku sambil tersenyum tipis padanya.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Ia membalas senyum ku, dan kembali ke tempatnya untuk membuat pesanan ku.
Cafe ini belum terlalu ramai, hanya ada tiga orang yang duduk di dalam cafe ini, termasuk diriku.
“Silahkan..” Entah sejak kapan, pelayan yang tadi melayani ku sudah berada di samping ku dengan membawa secangkir Latte Machiatto. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja ku, lalu ku lemparkan senyum tipis yang berarti-terima kasih-. Dan ia sepertinya mengerti, ia tersenyum, menganggukan kepalanya pelan dan kembali ke tempatnya. Ku seruput Latte Machiatto pesanan ku, sambil melihat jalanan Seoul yang sudah mulai ramai.
Tiba-tiba bel yang dipasang di atas pintu masuk berbunyi, tanda ada seseorang yang sedang membuka pintu. Ku alihkan pandangan ku ke arah pintu masuk tersebut. Seorang yeoja dengan sebuah gitar di punggungnya. “Manis.” Pikirku dalam hati. Yeoja itu berjalan menuju kasir.
“Annyeong haseyo..” Ucap salah satu pegawai cafe kepada yeoja tersebut. Entah mengapa, mata ku tidak bisa terlepas darinya. Tanpa ku sadari, kedua sudut bibir ku sudah terangkat ke atas. “Dia sangat cantik.” Ucap ku dalam hati.
“Ini dia pesanan mu, Hot Chocolate.” Pegawai tersebut menyerahkan sebuah kantong yang sudah bisa ku tebak isinya. Yeoja itu mengambilnya, dan menyerahkan beberapa lembar uang. Mereka terlibat obrolan singkat. Sepertinya mereka saling mengenal.
“Aku pergi dulu…” Ucap yeoja itu. Yeoja itu pun melangkah keluar cafe. Dan diriku baru sadar, yeoja itu telah hilang dari hadapan ku. Ini buruk. Mengapa tadi tidak berkenalan saja? Atau meminta nomor telepon? Apakah aku akan bertemu dengannya lagi? Ku rutuki diriku sendiri yang benar-benar bodoh. Pandangan ku terhenti pada pelayan yang tadi berbincang-bincang dengan yeoja itu. Senyum ku mengambang. Dengan segera ku langkahkan kaki ku ke arah kasir. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, aku membuka pembicaraan.
“Jeogi.. Apakah yeoja yang tadi berbincang-bincang dengan mu datang ke sini setiap hari?” Pelayan itu menaikkan satu alisnya, bingung.
“Maksud mu Lee Ji Eun?” Tanya nya pada ku. Lee Ji Eun, nama yang bagus.
“Ne.. Maukah kau memberi tau ku?” Ucap ku dengan penuh harap.
“Mengapa aku harus memberi tau mu? Siapa nama mu? Kau memiliki hubungan apa dengannya?” Tanya nya kepada ku. Raut mukanya sudah mulai curiga.
“Ahh… Nama ku Taeyang. Hmm, sepertinya aku pernah melihatnya, ku rasa dia salah satu kerabat jauh ku.” Ucap ku bohong sambil menggaruk kepala belakang ku.
“Dia hanya datang setiap jumat, antara jam delapan sampai jam sepuluh pagi.” Jawabnya dengan raut muka yang masih curiga.
“Ahh.. Baiklah, terima kasih atas informasinya.” Dia mengangguk pelan, dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ku langkahkan kaki ku keluar cafe, dan kembali menuju cafe milik ku. Di sepanjang perjalanan, wajahnya kembali tergambar jelas di benak ku. Entah mengapa, aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh.
—–
“Waktu, ku mohon berjalanlah lebih cepat.”
—–
Sekarang diriku sudah terduduk di atas kursi empuk di samping jendela di dalam sebuah cafe. Sama seperti yang ku lakukan Jumat lalu, aku sedang menyeruput Latte Machiatto milik ku. Bedanya, hari ini aku sedang menunggu kehadiran seseorang. Aku sedaritadi terus mengecek jam tangan ku.
“Baru jam setengah sembilan.” Gumam ku dalam hati.
“Kriingg..” Bel pintu itu pun berbunyi. Dengan segera ku arahkan pandangan ku ke pintu masuk.
Sosok yang ku tunggu sedaritadi sudah muncul. Seperti minggu kemarin, di punggungnya terdapat sebuah gitar. Bedanya, sekarang ia memakai sebuah bowler di atas kepalanya. Yeoja itu- ah, maksud ku Jieun mengambil pesanannya, dan terlibat dalam percakapan singkat dengan salah satu pelayan cafe. Bahkan aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Pikiran ku terlalu terpusat kepada nya. Dia terlalu mempesona. Jieun memutar badannya, dan berjalan ke arah pintu. Aku segera menyadarinya. Dengan buru-buru ku bayar Latte Machiatto yang ku pesan tadi dan segera mengejarnya.
Sekarang, diriku berjalan tepat dua meter di belakangnya.
“Ji….” Aku ingin memanggil namanya, tapi ku urungkan niat ku. Ku putuskan untuk mengikutinya.
Sepanjang jalan, aku hanya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana ku. Mengikuti kemana pun dia pergi. Sepanjang jalan aku terus tersenyum, tidak peduli lagi mereka yang melihat ku akan mengatai  ku idiot atau stalker. Kami berjalan cukup jauh, bahkan aku tidak merasakan pegal di kaki ku. Aku terlalu bahagia hari ini.
Kami berhenti di sebuah tempat. Sejauh mata memandang hanya terdapat hamparan rumput yang luas, dan sebatang pohon besar yang berdiri kokoh di tengah-tengah. Tempat ini berada di pinggiran kota Seoul, jauh dari hingar bingar perkotaan. Hanya ada kami berdua di sini. Jieun berjalan ke arah pohon itu, dan duduk di bawahnya. Dia menaruh gitarnya, dan mengeluarkan sebuah buku dari sarung gitarnya. Entah sejak kapan, di telinganya sudah terpasang sebuah headset. Dia membuka buku tersebut, dan membacanya. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Sepertinya dia tipikal yeoja yang sederhana, tidak seperti wanita Seoul pada umumnya. Ku dudukkan tubuh ku di atas rerumputan yang hijau, menopang dagu ku dengan kedua tangan ku, memandanginya terus menerus. Sihir apa yang digunakannya? Wajah ku tidak hentinya mengukir senyuman. Senyuman bahagia.
Jam tangan ku sudah menunjukkan jam sebelas siang. Matahari sudah berada di atas kepala, tetapi udara di sini masih sangat sejuk. Sudah satu jam dia membaca buku tersebut dan sudah satu jam juga aku memandanginya. Setelah satu jam dia membaca buku, akhirnya dia meletakkan buku tersebut dan mengeluarkan gitarnya. Dia memetik senar-senar gitar tersebut.
“Woryoil en ama bappeuji anheulkka… Hwayoildo seonggeubhaeboiji an geurae… Suyoireun mwongaeojeong jjeonghan neukkimmogyoireun… Geunyangnaega waenji shirheo… u~ibeon ju geumyoil…u~ geumyoire shigan eottaeyo…”
( He’s probably busy on Monday…
Tuesday seems too soon, don’t you think?
Wednesday feels kind of awkward…
I don’t like Thursday for some reason…
This Friday…How is this Friday? )
Dia bernanyi, dan suaranya terdengar sampai telinga ku meskipun kami terpaut jarak yang cukup jauh. Tidak heran, tempat ini begitu sunyi. Suaranya sangat indah.
Sepertinya dia belum menyadari kehadiran ku. Baguslah, setidaknya aku masih bisa melihatnya, meskipun hanya dari kejauhan.
—–
Sekarang, diriku kembali mengikutinya. Kegiatan ini sudah ku lakukan selama sebulan, setiap hari Jumat.
Setelah sampai padang rumput, diriku menangkap sesuatu yang ganjal.
“Kemana yeoja itu?”
Tiba-tiba ku rasakan ada sebuah tangan yang memukul pundak ku pelan. Ku putar badan ku untuk melihat sang empu dari tangan.
“Annyeong haseyo..” Seorang yeoja dengan gitar di punggungnya menyapa ku. Dia tersenyum. Mata ku membelalak. Dan ku sadari, siapa dia. Lee Ji Eun.
“Jadi, mengapa kau mengikuti ku sebulan terakhir ini?”
“Ne? Itu.. Hmm… Ahh.” Ini sungguh memalukan, tertangkap basah oleh yeoja yang kau sukai. Ku garuk kepala ku bingung. Apa yang harus ku katakan?
“Aku hanya ingin mengenal mu lebih jauh.” Ucap ku, dan dia hanya tertawa lepas.
“Aku sudah menangkap mu basah sejak hari pertama kau mengikuti ku. Insting ku cukup kuat.” Ucapnya sambil tersenyum tipis.
“Lalu? Mengapa kau diam saja?”
“Muka mu tidak seperti orang jahat. Lagi pula, jika kau memiliki niat jahat, kau tidak akan tersenyum sepanjang jalan seperti itu.”
Ternyata bakat stalker ku masih harus diasah lagi. Ini sungguh memalukan.
“Jadi, siapa nama mu? Nan Lee Ji Eun imnida.” Ia mengulurkan tangannya.
“Taeyang imnida.” Ku sambut tangannya, dan tesenyum tipis.
—–
“A normal Friday? For me it’s fly day.”
—–
Seperti biasa, hari jumat ini aku berada di bawah pohon besar yang terletak di padang rumput yang luas. Bedanya, sekarang sudah ada seorang namja yang menemani ku. Ku peluk lengannya erat, dan menyenderkan kepala ku di bahunya. Ku pejamkan mata ku. Dapat ku rasakan sebuah tangan mengelus kepala ku pelan.
“Mengapa mendadak menjadi manja, Jieun-ssi?” Godanya.
“Memang kenapa, Taeyang-ssi? Tidak boleh kah? Kau kan pacar ku sendiri.” Ucap ku dan ku peluk lebih erat lengannya. Dia mengacak-acak rambut ku dah terkekeh pelan. Rambut ku pasti berantakan, tapi aku menyukainya. Hanya terdengar deru nafas kami berdua, tidak ada satupun dari kami yang membuka pembicaraan. Posisi ini terlalu nyaman dan menyenangkan.
“Jieun…” Tiba-tiba dia memanggil nama ku. Ku buka mata ku dan ku kendurkan pelukan ku di lengannya. Ku tatap manik matanya yang indah itu.
“Hm??” Gumam ku.
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap mata ku. Dia merapikan rambut ku yang berantakan karena diacaknya tadi, dan menyibak poni ku yang menutupi mata ku.
“Ini baru antik.”
“Memang tadi tidak cantik?” Ku pukul lengannya pelan, berpura-pura marah.
“Tadi kau sexy, bukan cantik.” Godanya. Ku pukul lengannya lagi, kali ini lebih keras. Ku manyunkan bibir ku. Kali ini aku merasa sedikit kesal.
Tiba-tiba dia mencubit bibir ku.
“Jangan manyun.. Kau semakin sexy..” Godanya lagi. Aku tidak menjawabnya. Ku putar badanku menjauhinya, dan duduk membelakanginya.
Ia hanya terkekeh pelan. Tiba-tiba, dapat ku rasakan sepasang tangan telah melingkari pinggng ku.
“Jangan marah… Aku hanya bercanda.” Dia meletakkan kepalanya di pundak kiri ku. Diriku selalu luluh dengan perlakuan manisnya. Ku pegang tangan yang melingkar di pinggang ku ini. Kami mempertahankan posisi ini dalam posisi yang cukup lama. Ini sangat nyaman.
Tiba-tiba dia memutar tubuh ku untuk mengahadapnya. Dia menatap mata ku dalam, dan tersenyum tipis. Dia menyibak poni ku yang menutup mata ku karena tertiup angin. Dia mendekatkan wajahnya ke arah jidat ku, dan mencium kening ku sekilas. Dia turun ke bawah, dan mencium hidung ku pelan. Dan dia pun turun ke bawah lagi. Ditatapnya mata ku, lalu ia menggesek hidungnya pada hidung ku. Ini menyenangkan. Ditangkupnya pipi ku dengan sepasang tangan hangatnya. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah ku, dan diriku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ku pejamkan mata ku. Dan dapat ku rasakan sesuatu yang lunak dan basah menempel di atas bibir ku. Sebuah ciuman yang manis dan hangat.
Dia menjauhkan wajahnya dari wajah ku, memegang tangan kiri ku, dan mengecupnya pelan.
“Saranghae…” Hati ku terasa sangat damai setelah dia mengatakan itu. Dia menarik ku ke dalam pelukannya. Ku peluk erat tubuhnya. Aku tidak akan pernah melepaskannya. Tidak akan pernah.
Cafe itu, padang rumput ini, dan pohon besar ini menjadi saksi bisu kisah cinta kami berdua. Dan jangan lupakan….
Hari Jumat.

~~~~~~~~~~

Iklan